Ibu Kartini Jualan Buku

20Dec08

Jum’at 19 Desember 2008, Pagi itu aku mendapat tugas yang mulia dari Ibuku, (cie….) yaitu mengantarkan bingkisan berupa rambutan yang baru aku petik kemarin sore dari belakang rumah. Bingkisan itu harus aku antarkan kepada 3 orang temannya yang kebetulan tempat tinggal ke 3 orang tersebut berdekatan satu sama lain, dan jarak dari rumah aku pun lumayan dekat cukup dijangkau dengan sepeda. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua tentunya aku wajib menjalankan amanah itu.

Aku mengayuh sepedaku dengan tiga bingkisan yang aku gantungkan disisi kiri kanan stang sepeda. Tidak lama kemudian aku sampai ditempat tujuan pertama, nama teman ibuku yang pertama adalah ibu Popon pemilik toko alat-alat pancing. Bungkusan itu aku berikan satu, kebetulan orangnya tidak ada dan hanya ada laki-laki tua yang saya kira itu suaminya. Bersebrangan dengan toko alat-alat pancing itu ada ibu setengah tua yang berjualan nasi uduk, namanya ibu Mus. Aku berikan bingkisan satu lagi kepada ibu Mus. Baru aku mau melangkah untuk menuju tujuanku satu lagi, Bu Mus bertanya kepadaku :

‘Itu satu bungkus lagi buat siapa?’ kata bu mus

‘Ini untuk Ibu Karsono, ada di rumah gak ya bu?’ sahut saya.

” Barusan keluar, kayaknya ke tokonya” jawab Bu Mus.

” Toko mana Bu?’ aku bertanya lagi

“Toko Sugih” terangnya.

“oo.., toko buku itu bu ya, makasih bu ya biar saya langsung kesana saja” jawabku

“iya, sampaikan juga terima kasih sama ibu ya atas bingkisannya” timpal Bu Mus.

” iya bu akan saya sampaikan” Aku sambil berpamitan, dan bergegas menuju tempat yang Bu Mus tadi sebutkan.

Tidak butuh waktu lama untuk menuju tempat itu karena memang tidak berjauhan dari tempat Bu Mus tadi. Aku tiba di depan Toko Sugih, sebuah toko buku yang tidak terlalu besar namun dipadati oleh barang- barang berupa buku dan sejenisnya.

” Maaf mbak, ada Bu Karsono gak?’ Aku bertanya kepada salah satu pelayan toko itu, seorang wanita yang masih belia, mungkin umurnya sekitar 17 tahun.

“Bu karsono??, ” sahut pelayan tadi dengan sedikit kebingungan.

Pelayan tadi lalu bertamya kepada teman sesama pelayannya yang sedikit lebih tua darinya “teh, bu karsono ada gak?’

Temannya melirik tapi tidak menjawab, mungkin dia sedang sibuk karena lagi membereskan buku-buku atau mungkin juga kebingungan sama seperti pelayan tadi.

” Bu kartini mungkin A?” pelayan itu balik bertanya kepada saya.

aku sedikit bingung, sambil clingak-clinguk aku berfikir apa aku salah masuk toko, atau Bu Mus salah menyebutkan nama tokonya, jangan-jangan yang punya toko ini namanya bukan bu karsono temen ibu saya, tapi namanya bu kartini seperti yang pelayan toko itu sebutkan.

” Bu karsono kok mbak, bukan Bu kartini” aku menegaskan kepada pelayan toko itu.

Pelayan itu pun kebingugan, sama seperti halnya saya. Entah memang saya salah masuk toko atau memang pelayan itu tidak tahu nama pemilik toko itu. Aku tetap bersikeras bahwa yang aku cari itu adalah bu Karsono bukan Bu kartini yang pelayan itu maksud, pelayan itu pun bersikeras mungkin saya mencari bu Kartini.

Tiba-tiba muncul dari balik etalase toko seorang ibu setengan tua, mungkin seumuran dengan ibu saya. Dan tampaknya itu Ibu Karsono yang saya maksud, saya mengenali wajahnya karena sudah beberapa kali bertemu dirumahnya waktu disuruh ibu saya mengantarkan sesuatu. Dan ibu karsono juga mengenali wajah saya yang ganteng .

Tidak lama kemudian Ibu itu menghampiri saya, seraya berkata dengan logat sundanya ” Eh, encep kirain teh siapa”

“iya bu, ini saya disuruh ibu untuk mengantarkan ini buat ibu” saya berkata sambil menyodorkan bungkusan plastik yang saya bawa.

” Aduh, sampaikan terima kasih ya sama ibu” terangnya seraya mengambil bungkusan plastik yang saya sodorkan.

“iya bu, akan saya sampaikan” timpalku seraya bepamitan.

Disamping Ibu itu, berdiri pelayan tadi dengan muka sedikit memerah karena malu, lalu dia berkata kepada saya, ” maaf ya A, kirain mau nyari poster Ibu kartini”

AKu baru nyadar ternyata si pelayan toko tadi mengira aku pelanggan yang mau membeli poster Ibu Kartini, pahlawan perempuan yang memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan itu, makanya dia ngotot bilang kalo saya mungkin mencari Ibu kartini, bukan ibu karsono.

” iya mbak ga apa-apa” saya menjawab sambil menahan tawa, lalu bergegas mengayuh sepeda untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang aku tertawa terbahak-bahak sendiri mengingat kejadian tadi, layaknya orang yang tidak waras.



One Response to “Ibu Kartini Jualan Buku”

  1. emang, guru adlaah segala-galanya…tapi ibu lebih segalanya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: